Pria manis itu bernama Putra
Masih ku ingat jelas hari pertama menghuni rumah baru itu, tepat di depan rumahku, tinggallah seorang pria yang manis, entah kenapa itu membuatku berubah. Aku yang semula tak pernah mengurai rambut, kini perlahan kurapikan. Aku yang awalnya tidak memperhatikan penampilan, kini mulai merasa malu jika berpakaian layaknya lelaki. Padahal sebelum bertemu dengannya aku sangat nyaman menggunakan kaos oblong serta celana gunung yg kebesaran. Rambut yg semula selalu ku ikat perlahan mulai kuurai dan kuhiasi dengan aksesoris yang imut. Hahaha entahlah aku merasa hal ini sangat gila.
Setiap pagi aku membersihkan halaman depan rumah hanya untuk melihat wajah manisnya itu. Ahhh siall dia terlalu indah untuk diabaikan, gumamku waktu itu. Saat itu aku tidak pernah tau tentang rasa yang kurasakan, rasa yang membuatku tersenyum-senyum sendiri bila mengingatnya.
Hampir tiap hari ku perhatikan rumahnya, hingga aku sangat hapal jadwal sehari-harinya. Dari mulai berangkat sekolah hingga waktu tidur dimalam hari. Kamarnya berada di ruangan paling depan rumahnya. Dari jendela kamarku, aku bisa memlihat jelas teras rumah yg lampunya diredupkan saat malam hari, Benda-benda dikamarnya yg terlihat di balik tirai putih tipisnya, aku bisa membayangkan bagaimana kamarnya. Setiap malam dia selalu menyempatkan membaca buku di kamar tidurnya. Meja belajarnya tepat di bawah jendela kaca, melalui sinar lampu dalam kamarnya, dan lampu teras yang redup itu, bisa kulihat bayang-bayang dirinya saat membaca buku.
Entahlah, apa alasannya selalu mematikan lampu teras saat dia duduk di berandanya, tetapi saat dia sudah masuk ke kamarnya, lampu teras kembali dinyalakan. Mungkin dia tidak ingin menjadi pusat perhatian, Maklum saja di tempatku waktu itu dia satu-satunya pria yang berwajah tampan.
Saat itu dia masih duduk di bangku SMA, sedangkan saya baru memasuki SMP. Aneh rasanya saat memperhatikan pria untuk yang pertama kalinya.Aku dan dia tidaklah terlalu akrab, kami tidak pernah duduk berdua dan menghabiskan malam hanya sekedar bercanda ria, padahal rumahku selalu dijadikan tempat tongkrongan pemuda-pemuda di sana, maklum saja ayahku membuka warung kecil-kecilan dan setiap malam ramai dikunjungi pemuda-pemuda seumuran dia, tapi entah kenapa dia tidak pernah berkungjung. Mungkinkah dia antisosial? atau mungkin dia terlalu malas menghabiskan malam hanya dengan mengobrol saja. Dia lebih memilih membaca buku di kamar tidurnya untuk menghabiskan malam.
Pernah ku cari tau apa aktivitasnya selain sekolah kepada pria-pria seumurannya tapi informasi yang kudapatkan sangatlah minim. Dia tidak akrab dengan pemuda-pemuda disini. Teman yang selalu berkunjung kerumahnya juga bukan orang satu desa.
Dia terlihat semakin tampan mengenakan seragam putih abu-abunya, dia memiliki perawakan tubuh yang tinggi, dan kulitnya putih pucat. Aku pun heran bagaimana bisa kulitnya sepucat itu, sedangkan orang tua dan kakak-kakanya tidak demikian. Mungkin karna dia jarang beraktivitas di luar ruangan. Dunianya hanya sebatas rumah dan sekolah.
Dia juga termasuk pria yang rajin membantu orang tuanya, maklum saja dikeluarganya tidak memiliki saudara wanita, kakak dan adiknya semua pria. Setiap pagi minggu dia membantu ayahnya membersihkan pekarangan depan rumahnya. Saya tentu saja sering mencuri pandang.
Namun, perasaan itu hanya sebatas kekaguman semata, aku tidak pernah berharap bisa memilikinya, bahkan bisa berteman dengannya pun tidak pernah terbayang. Aku yang saat itu masih anak ingusan hanya bisa memperhatikannya secara diam-diam. Setelah sekian tahun, mungkin hanya beberapakali saja aku memiliki kesempatan menyapanya. Senang rasanya saat suatu hari dia memanggil namaku, tak kusangka dia mengetahui namaku, mungkin karna sudah lebih dari setahun bertetangga. Senang :).
Sejak saat itu, entah kenapa aku selalu tertarik dengan pria yang tinggi putih dan baik, mungkin karna dia seperti itu. Selama tiga tahun aku hanya bisa memperhatikannya secara diam-diam, dan bahkan sampai sekarangpun masih diam-diam. Kini dia sudah kuliah di salah satu perguruan tinggi negri di kota. Kebetulan aku satu kampus dengannya. Sering beberapa kali aku berpapasan dengannya, dan dia tersenyum melihatku. Aku senang karna dia tidak pernah melupakanku. Suatu haripun aku melihatnya bersama wanita cantik yang kuketahui sebagai kekasihnya. Aku pun senang melihatnya. Betapa beruntungnya wanita itu, gumamku dalam hati.
Putra, anggap saja namanya itu. Terima kasih karna telah membuat banyak perubahan pada diriku. Terima kasih, berkatmu aku menemukan fungsi hati ini, mungkin jika tak melihatmu hari itu, aku tidak akan pernah tau rasanya debaran pertama dalam dada saat melihat pria. Terima kasih karna masih berteman baik denganku. Dan aku terima kasih karna telah menjadi pria pertama yang menggetarkan hatiku. Berkatmu, standar hatiku menjadi tidak biasa, aku hanya bisa jatuh hati pada pria yang baik dan manis sepertimu.
Sekali lagi terima kasih :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar