I
Suara
bising laju kendaran itu terdengar
jelas ditelinga. Debu dan polusipun menjadi hal yang sangat
lumrah ku alami. Teriknya sinar matahari terasa menembus kulitku, debu-debupun seolah
berlomba-lomba menyibak rambut-rambut hidungku yang tentu saja membuatku semakin
sesak.
Kendaraan-kendaran
terlihat hanya sedang merayap karna suasana siang ini teramat padat, apa lagi ini waktu makan siang. Macet!!.. Yahh,begitulah.. pemandangan seperti ini telah
menjadi suatu fenomena yang biasa dikotaku
ini.
Sekali
lagi kulirik jam chanel yang melingkar dilengan kiriku,terlihat jarum panjang di
angka 30 dan jarum pendek tepat berada di antara 12 dan 1.
“Waahh..celaka
bisa-bisa telat nih gua!!”. Gerutuku ditengah kemacetan yang menyebalkan.
Saat lampu hijau arah kampusku menyala langsung
saja ku pacu kendaraan ku dengan kecepatan yang tak bisa melebihi 60 km/jm
karna memang jalan raya itu masih padat. Akupun menyalip satu persatu mobil
yang ada di hadapanku.
Siang
ini dijalan utama Bandar Lampung terlihat sangat padat,dengan hati kesal
kutekan tombol kuning di stang kiri
bagian bawah berkali-kali,namun nampaknya itu hanya menambah keruh suasana.
Tepat didepan sebuah café terlihat
segerombolan ABG berdesak-desakan saling berebut untuk bisa menyalip ke depan stage mini yang tingginya tak lebih dari
30 cm. Setelah sedikit melirik,Banner
yang terikat di pinggir jalan memperlihatkan bahwa disana sedang ada peluncuran
single lagu Band pendatang baru.
“Owhh..ini
tho yang ternyata membuat macet. Huhh rusuh aja ni anak-anak ABG “.Omelku dalam hati.
Terdengar
samar-samar syair lagu yang tengah dinyanyikan oleh vocalis Band tersebut.
“emm..suaranya
lumayan juga,ada nilai jual!”.Pujiku kemudian
“……Senja
Kemana lagi harus kumencari
Bertahun sudah aku berkelana
Mencari dan berharap
Takdir mempertemukan kita
Senja
kembalilah…
Waktuku hampir habis
Senja
andai kau tau kaulah hatiku
Kaulah cintaku
Hidupku hampa tanpamu
Ohh..senja
kembalilah
Ijinkan untuk terakhir kalinya
Ku katakan tentang semua rasa yang
terpendam
Senja
kaulah cintaku…..”
Tiba-tiba saja tanganku berhenti menarik gas
mtorku,laju kendaraankupun berhenti tepat didepan panggung itu,aku merasa
sepertinya lagu itu mamanggilku,tapi saat kakiku hendak berniat melihat
siapakah gerangan yang ada di panggung tersebut,hp disaku tasku bordering.
“Hallo
sin, kamu
dimana?”.Tanya seseorang disebrang sana.
“Iya
iya ka, aku udah deket kampus kok, bentar lagi nyampe”.Jawabku
mencoba meredakan cemasnya.
“owh,,yaudah
buruan ya udah hampir mulai
nih presentasinya”.Jawabnya lega.
“Iya ya
Tika bawel,,yaudah bye,tunggu aku ya”.
“Iya Sintha
lelet,,hehehe”.
Tika
Putri Ambaratrini,dia adalah teman kampusku,dia bukan hanya sekedar teman,tapi
juga sahabat yang ku anggap seperti keluarga sendiri,dia adalah sahabat yang
paling mengerti aku,dia selalu ada untukku,persahabatan kami begitu indah. Dan
saat ini dia tiba-tiba saja menelponku dengan suara cemprengnya yang agak
menggangu telinga,dia sangat cemas karna dihari sepenting ini aku tidak
biasanya terlambat,jadi mau gak mau aku harus segera ke kampus agar tak
menerima omelan dia yang panjangnya seperti rel kereta api hehehe :D.
Padahal aku masih sangat penasaran dengan sosok
penyanyi yang syairnya mampu menghentikan langkahku,tapi ya apa boleh buat aku
harus memendam perasaan itu,
“semoga
suatu saat aku bisa bertemu dengan mereka”.Harapku dalam hati.
Setibanya di area kampus,akupun bergegas
memarkirkan motor bututku dan taklupa menguncinya dengan gembok,antisipasi
karna daerah kampusku masih rawan pencurian. Lalu dengan sedikit berlari
kususuri satu persatu anak tangga di gedung utama tempatku mempresentasikan
hasil penelitianku dengan kedua sahabatku.Keringatpun bercucuran disekitar
pipiku,maklum cuaca yang panas ditambah harus menyusuri tangga hingga lantai 4
cukup membuat tenagaku terkuras.
“Akhirnya
sampai juga kamu sin”
“sorry,deh
aku telat,macet sih tadi”
“iya
gak apa-apa sin,mau kubeliin minuman segar gak sin? Keliatannya kamu cape
banget”.Tanya Andi penuh perhatian.
“ahh,,sintha
thu emang dasar lelet aja,kayak gak tau aja lu ndi”
Ya,memang
sih Andi perhatian banget sama aku,tapi entah kenapa aku masih belum bisa
menerima Andi untuk menjadi pengisi hatiku.Padahal Andi sangat tampan,berasal
dari keluarga yang bonafit ,diantara
teman-teman kampusku dialah cowo yang paling care,baik and perhatian
banget sama aku,banyak cewe kampus yang iri padaku atas perhatian andi yang
begitu besar padaku.
“sin,,sintha?
Kamu kenapa?kamu sakit ya?”.Tanya Andi memecahkan lamunanku.
“ehh..enggak
kok di,gak apa-apa cuman agak capek aja”.Jawabku terkrjut.
“Yaudah
istirahat aja dulu di kelas,presentasinya masih 15 menit lagi kok,yuk aku
anterin”
“ahh
gak usah di,gak apa-apa bener deh”
“ehem..ehem
aduh mau donk diperhatiin juga”.Goda Tika yang merasa dari tadi dicuekin.
“iya
deh Tika bawel,sini aku jitak kepalamu!!”.ucap Andi sambil mencoba meraih
kepala Tika.
“ihh..ndi
sakit tau!! Huuhh..sin tolongin sih”.Tika mencoba bersembunyi dibalik tubuh ku.
Aku hanya bisa tertawa kecil menyaksikan hal
kekanak-kanakan mereka.Gelak tawapun terdengar disana.Itulah yang terjadi saat
kami bertiga bersama. Hal itu mengingatkanku dengan kedua sahabat kecilku pada 7 tahun lalu yang kini entah dimana,masih
terlihat jelas samar-samar bayang wajah lugu keduanya yang kini mungkin mereka
menjelma menjadi wanita-wanita yang banyak dipuja pria karna kecantikannya,Ayu
dan Ratih namanya,teringat pula disaat tertawa bersama,saling memeluk dan
berurai air mata,ketika menerima amplop kelulusan SMP dan saat itulah hari
terakhirku melihat keduanya,karna mereka dikirim oleh orang tuanya keluar pulau
untuk melanjutkan sekolah,karna menurut orang tua mereka sekolah SMA di kotaku
belum berstandar internasional,ya aku
maklum saja mereka kan dari keluarga terhormat. Sejak saat itu perlahan-lahan
aku kehilangan kabar dengan mereka
hingga akhirnya benar-benar hilang takkala keluarga merekapun ikut pindah ke
pulau sebrang.
Aku memulai perjalanan hidupku di bangku SMAN 1 bag.tengah
kecamatan pusat yang merupakan
satu-satunya SMA yg berstandar nasional di kotaku,dan disanalah semua kisah cinta
ini dimulai
***
Siang
itu cuaca cukup terik di daerah tepi pantai kotaku,saat ini aku sedang
berdesak-desakan mengantri untuk mendapatkan formulir pendaftaran siswa baru di
SMAN 1 bag.Tengah,Karna cuaca yang begitu terik ditambah lagi oleh desakan
manusia yang begitu padat serta suara yang begitu gaduh membuatku merasa
seperti terjepit diantara jurang yang begitu bau. Keringat bercucuran,menetes
satu demi satu membuat jalur seperti anak sungai,kemudian bermuara pada dagu
serta baju seragam putih biru ku.Letih memang harus mengantri seperti ini tapi
ya namanya juga perjuangan.
Untungnya aku tidak sendiri,aku bersama dengan
sahabat karibku,sahabat yang selalu ada bersama ku,sahabat yang selalu bersama
sejak masa kanak-kanak, Lestari.
Kami selalu bersama-sama kemanapun kami
pergi,bagai hal yang tak dapat terpisahkan lagi. Dialah satu-satunya yang ku
punya sekarang setelah kepergian Ayu dan Ratih. Kami berjanji apapun yang terjadi kami akan tetap bersama saling
berbagi dan saling menasehati.
Aku
berdiri di depan Tari karna postur tubuhku yang tinggi mampu melindungi dia
dari teriknya sang surya disiang ini. Setelah lama mengantri akhirnya aku dan
Tari pun mendapatkan formulirnya. Bergegas kami menuju kebawah pohon beringin
yang rindang duduk dan saling meminjam pundak untuk mengisi formulir
tersebut,ya begitulah persahabatan kami saling membantu satu sama lain. Setelah
diisi lengkap kamipin menyerahkannya kembali kepada panitia pendaftaran dan
mendapatkan selembar kertas berisikan info waktu test tertulis dan test lisan.
Begitu
sulit untuk bisa diterima di sekolah negri ini,harus menjalani serangkaian test
yang luar biasa menguras keringat. Tapi
karna tekad dan cita-cita untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya kami
takan mudah menyerah dan akan terus berusaha. Ada 2 minggu waktu yang tersisa
sebelum hari ujian tulis berlangsung dan waktupun tidak ku buang percuma hampir
setiap malam kami bergantian berkunjung untuk belajar bersama.Tak jarang kadang
ada pula teman-temanku yang rumahnya tidak jauh dari kami ikut bergabung.
Dengan harapan yang sama yaitu bisa diterima di sekolah pilihan kami nantinya.
Hari
ujian pun datang,sepagi mungkin aku dan Tari berangkat ke lokasi ujian agar
tidak terlambat dihari pertama ujian.Sebelum ujian berlangsung akupun taklupa
mengikuti nasehat ayah agar berdoa terlebih dahulu meminta kelancaran dalam
mengerjakan soal-soal ujian. Ujian pun dimulai dengan tenang aku
menyelesaikannya satu persatu.sesekali ku lirik Tari yang berada tepat di
depanku. Nampak dari raut wajahnya kalau dia lagi kebingungan. “Ah semoga saja
dia ingat semua pelajaran telah kami bahas kemarin”.Selama tiga hari ujian
berlangsung dan kini kami hanya perlu menunggu 1 minggu lagi untuk mengetahui
hasilnya.Rasanya menunggu 1 minggu sama seperti
menunggu berbulan-bulan. Setiap hari selalu saja gelisah,khawatir dengan
hasil yang akan di dapat nantinya.
Waktu
pengumumannya pun tiba. Jalan dipagi itu amatlah ramai.Ternyata lebih ramai
dibandingkan dengan hari pendaftaran kemarin hampir 2000 anak smp dari berbagai
wilayah ada disana.Dan semua datang dengan harapan yang sama denganku yaitu
lulus ujian. Melihat jumlahnya yang mencapai 2000 peserta dan kuota siswa baru
hanya mampu menampung maksimal 400 siswa,seketika itu juga pesimis mulai
melanda.
“ri,mungkin
gak ya kita berdua diterima?.”Tanya ku dengan nada rendah.
“kenapa
kamu bertanya seperti itu sin?.kamu pesimis?.” Jawab Tari.
“yaa
gimana geh,coba lihat disekeliling kamu,banyak banget kan yang daftar dan
kelihatannya mereka cerdas-cerdas,jadi ngeri gini ri”
“yaudah,kita
liat aja hasilnya nanti,kita berdoa aja sin”
“iya
ri,semoga lulus aminn”
“amin”
Waktu
pengumumanpun tiba tampak anggota osis dan dewan guru keluar ruangan dengan
membawa kertas-kertas yang berisikan daftar nama-nama yang diterima di sekolah
ini. Kontan saja para murid dan orang tua yang menunggu dari pagi langsung
mengikuti mereka.*bersambung...

