Senin, 07 Desember 2015

Bagian 1



I

        Suara bising laju kendaran itu terdengar jelas ditelinga. Debu dan polusipun menjadi hal yang sangat lumrah ku alami. Teriknya sinar matahari terasa menembus kulitku, debu-debupun seolah berlomba-lomba menyibak rambut-rambut hidungku yang tentu saja membuatku semakin sesak.
        Kendaraan-kendaran terlihat hanya sedang merayap karna suasana siang ini teramat padat, apa lagi ini waktu makan siang. Macet!!.. Yahh,begitulah.. pemandangan seperti ini telah menjadi suatu fenomena yang biasa dikotaku ini.
        Sekali lagi kulirik jam chanel  yang melingkar dilengan kiriku,terlihat jarum panjang di angka 30 dan jarum pendek tepat berada di antara 12 dan 1.
        “Waahh..celaka bisa-bisa telat nih gua!!”. Gerutuku ditengah kemacetan yang menyebalkan.
Saat lampu hijau arah kampusku menyala langsung saja ku pacu kendaraan ku dengan kecepatan yang tak bisa melebihi 60 km/jm karna memang jalan raya itu masih padat. Akupun menyalip satu persatu mobil yang ada di hadapanku.
        Siang ini dijalan utama Bandar Lampung terlihat sangat padat,dengan hati kesal kutekan tombol kuning di stang kiri bagian bawah berkali-kali,namun nampaknya itu hanya menambah keruh suasana. Tepat didepan sebuah cafĂ© terlihat segerombolan ABG  berdesak-desakan saling  berebut untuk bisa menyalip ke depan stage mini yang tingginya tak lebih dari 30 cm. Setelah sedikit melirik,Banner yang terikat di pinggir jalan memperlihatkan bahwa disana sedang ada peluncuran single  lagu Band pendatang baru.
        “Owhh..ini tho yang ternyata membuat macet. Huhh rusuh aja ni anak-anak ABG “.Omelku dalam hati.
        Terdengar samar-samar syair lagu yang tengah dinyanyikan oleh vocalis Band tersebut.
        “emm..suaranya lumayan juga,ada nilai jual!”.Pujiku kemudian
        “……Senja
        Kemana lagi harus kumencari
        Bertahun sudah aku berkelana
        Mencari dan berharap
        Takdir mempertemukan kita
        Senja kembalilah…
        Waktuku hampir habis
        Senja andai kau tau kaulah hatiku
        Kaulah cintaku
        Hidupku hampa tanpamu
        Ohh..senja kembalilah
        Ijinkan untuk terakhir kalinya
        Ku katakan tentang semua rasa yang terpendam
        Senja kaulah cintaku…..”
Tiba-tiba saja tanganku berhenti menarik gas mtorku,laju kendaraankupun berhenti tepat didepan panggung itu,aku merasa sepertinya lagu itu mamanggilku,tapi saat kakiku hendak berniat melihat siapakah gerangan yang ada di panggung tersebut,hp disaku tasku bordering.
        “Hallo sin, kamu dimana?”.Tanya seseorang disebrang sana.
        “Iya iya ka, aku udah deket kampus kok, bentar lagi nyampe”.Jawabku mencoba meredakan cemasnya.
        “owh,,yaudah buruan ya udah hampir mulai nih presentasinya”.Jawabnya lega.
        “Iya ya Tika bawel,,yaudah  bye,tunggu aku ya”.
        “Iya Sintha lelet,,hehehe”.


        Tika Putri Ambaratrini,dia adalah teman kampusku,dia bukan hanya sekedar teman,tapi juga sahabat yang ku anggap seperti keluarga sendiri,dia adalah sahabat yang paling mengerti aku,dia selalu ada untukku,persahabatan kami begitu indah. Dan saat ini dia tiba-tiba saja menelponku dengan suara cemprengnya yang agak menggangu telinga,dia sangat cemas karna dihari sepenting ini aku tidak biasanya terlambat,jadi mau gak mau aku harus segera ke kampus agar tak menerima omelan dia yang panjangnya seperti rel kereta api hehehe :D.
Padahal aku masih sangat penasaran dengan sosok penyanyi yang syairnya mampu menghentikan langkahku,tapi ya apa boleh buat aku harus memendam perasaan itu,
        “semoga suatu saat aku bisa bertemu dengan mereka”.Harapku dalam hati.
Setibanya di area kampus,akupun bergegas memarkirkan motor bututku dan taklupa menguncinya dengan gembok,antisipasi karna daerah kampusku masih rawan pencurian. Lalu dengan sedikit berlari kususuri satu persatu anak tangga di gedung utama tempatku mempresentasikan hasil penelitianku dengan kedua sahabatku.Keringatpun bercucuran disekitar pipiku,maklum cuaca yang panas ditambah harus menyusuri tangga hingga lantai 4 cukup membuat tenagaku terkuras.
        “Akhirnya sampai juga kamu sin”
        “sorry,deh aku telat,macet sih tadi”
        “iya gak apa-apa sin,mau kubeliin minuman segar gak sin? Keliatannya kamu cape banget”.Tanya Andi penuh perhatian.
        “ahh,,sintha thu emang dasar lelet aja,kayak gak tau aja lu ndi”
        Ya,memang sih Andi perhatian banget sama aku,tapi entah kenapa aku masih belum bisa menerima Andi untuk menjadi pengisi hatiku.Padahal Andi sangat tampan,berasal dari keluarga yang bonafit ,diantara teman-teman kampusku dialah cowo yang paling care,baik and perhatian banget sama aku,banyak cewe kampus yang iri padaku atas perhatian andi yang begitu besar padaku.
        “sin,,sintha? Kamu kenapa?kamu sakit ya?”.Tanya Andi memecahkan lamunanku.
        “ehh..enggak kok di,gak apa-apa cuman agak capek aja”.Jawabku  terkrjut.
        “Yaudah istirahat aja dulu di kelas,presentasinya masih 15 menit lagi kok,yuk aku anterin”
        “ahh gak usah di,gak apa-apa bener deh”
        “ehem..ehem aduh mau donk diperhatiin juga”.Goda Tika yang merasa dari tadi dicuekin.
        “iya deh Tika bawel,sini aku jitak kepalamu!!”.ucap Andi sambil mencoba meraih kepala Tika.
        “ihh..ndi sakit tau!! Huuhh..sin tolongin sih”.Tika mencoba bersembunyi dibalik tubuh ku.
Aku hanya bisa tertawa kecil menyaksikan hal kekanak-kanakan mereka.Gelak tawapun terdengar disana.Itulah yang terjadi saat kami bertiga bersama. Hal itu mengingatkanku dengan kedua sahabat kecilku pada  7 tahun lalu yang kini entah dimana,masih terlihat jelas samar-samar bayang wajah lugu keduanya yang kini mungkin mereka menjelma menjadi wanita-wanita yang banyak dipuja pria karna kecantikannya,Ayu dan Ratih namanya,teringat pula disaat tertawa bersama,saling memeluk dan berurai air mata,ketika menerima amplop kelulusan SMP dan saat itulah hari terakhirku melihat keduanya,karna mereka dikirim oleh orang tuanya keluar pulau untuk melanjutkan sekolah,karna menurut orang tua mereka sekolah SMA di kotaku belum  berstandar internasional,ya aku maklum saja mereka kan dari keluarga terhormat. Sejak saat itu perlahan-lahan aku kehilangan kabar dengan mereka hingga akhirnya benar-benar hilang takkala keluarga merekapun ikut pindah ke pulau sebrang.
Aku memulai perjalanan hidupku di bangku SMAN 1 bag.tengah kecamatan pusat  yang merupakan satu-satunya SMA yg berstandar nasional di kotaku,dan disanalah semua kisah cinta ini dimulai
***
        Siang itu cuaca cukup terik di daerah tepi pantai kotaku,saat ini aku sedang berdesak-desakan mengantri untuk mendapatkan formulir pendaftaran siswa baru di SMAN 1 bag.Tengah,Karna cuaca yang begitu terik ditambah lagi oleh desakan manusia yang begitu padat serta suara yang begitu gaduh membuatku merasa seperti terjepit diantara jurang yang begitu bau. Keringat bercucuran,menetes satu demi satu membuat jalur seperti anak sungai,kemudian bermuara pada dagu serta baju seragam putih biru ku.Letih memang harus mengantri seperti ini tapi ya namanya juga perjuangan.
Untungnya aku tidak sendiri,aku bersama dengan sahabat karibku,sahabat yang selalu ada bersama ku,sahabat yang selalu bersama sejak masa kanak-kanak, Lestari.
Kami selalu bersama-sama kemanapun kami pergi,bagai hal yang tak dapat terpisahkan lagi. Dialah satu-satunya yang ku punya sekarang setelah kepergian Ayu dan Ratih. Kami berjanji apapun  yang terjadi kami akan tetap bersama saling berbagi dan saling menasehati.
        Aku berdiri di depan Tari karna postur tubuhku yang tinggi mampu melindungi dia dari teriknya sang surya disiang ini. Setelah lama mengantri akhirnya aku dan Tari pun mendapatkan formulirnya. Bergegas kami menuju kebawah pohon beringin yang rindang duduk dan saling meminjam pundak untuk mengisi formulir tersebut,ya begitulah persahabatan kami saling membantu satu sama lain. Setelah diisi lengkap kamipin menyerahkannya kembali kepada panitia pendaftaran dan mendapatkan selembar kertas berisikan info waktu test tertulis dan test lisan.
        Begitu sulit untuk bisa diterima di sekolah negri ini,harus menjalani serangkaian test yang  luar biasa menguras keringat. Tapi karna tekad dan cita-cita untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya kami takan mudah menyerah dan akan terus berusaha. Ada 2 minggu waktu yang tersisa sebelum hari ujian tulis berlangsung dan waktupun tidak ku buang percuma hampir setiap malam kami bergantian berkunjung untuk belajar bersama.Tak jarang kadang ada pula teman-temanku yang rumahnya tidak jauh dari kami ikut bergabung. Dengan harapan yang sama yaitu bisa diterima di sekolah pilihan kami nantinya.
        Hari ujian pun datang,sepagi mungkin aku dan Tari berangkat ke lokasi ujian agar tidak terlambat dihari pertama ujian.Sebelum ujian berlangsung akupun taklupa mengikuti nasehat ayah agar berdoa terlebih dahulu meminta kelancaran dalam mengerjakan soal-soal ujian. Ujian pun dimulai dengan tenang aku menyelesaikannya satu persatu.sesekali ku lirik Tari yang berada tepat di depanku. Nampak dari raut wajahnya kalau dia lagi kebingungan. “Ah semoga saja dia ingat semua pelajaran telah kami bahas kemarin”.Selama tiga hari ujian berlangsung dan kini kami hanya perlu menunggu 1 minggu lagi untuk mengetahui hasilnya.Rasanya menunggu 1 minggu sama seperti  menunggu berbulan-bulan. Setiap hari selalu saja gelisah,khawatir dengan hasil yang akan di dapat nantinya.
        Waktu pengumumannya pun tiba. Jalan dipagi itu amatlah ramai.Ternyata lebih ramai dibandingkan dengan hari pendaftaran kemarin hampir 2000 anak smp dari berbagai wilayah ada disana.Dan semua datang dengan harapan yang sama denganku yaitu lulus ujian. Melihat jumlahnya yang mencapai 2000 peserta dan kuota siswa baru hanya mampu menampung maksimal 400 siswa,seketika itu juga pesimis mulai melanda.
        “ri,mungkin gak ya kita berdua diterima?.”Tanya ku dengan nada rendah.
        “kenapa kamu bertanya seperti itu sin?.kamu pesimis?.” Jawab Tari.
        “yaa gimana geh,coba lihat disekeliling kamu,banyak banget kan yang daftar dan kelihatannya mereka cerdas-cerdas,jadi ngeri gini ri”
        “yaudah,kita liat aja hasilnya nanti,kita berdoa aja sin”
        “iya ri,semoga lulus aminn”
        “amin”
Waktu pengumumanpun tiba tampak anggota osis dan dewan guru keluar ruangan dengan membawa kertas-kertas yang berisikan daftar nama-nama yang diterima di sekolah ini. Kontan saja para murid dan orang tua yang menunggu dari pagi langsung mengikuti mereka.

*bersambung...

Jumat, 19 Juni 2015

Contoh paragraph deskripsi esay



Everyone have a friend, so am I. I have a lot of friend, there are many types, but one of them is different from the others, he is my neighbor, I am very like him. He is diligent in his house, his school, and also in our environment. His name is Hendra, the most diligent friends I ever known.
            First, he is diligent in his house. He always helps his parents. Every morning he helps his parents to clean up their house.  He also helps his brother because he known that his brother can’t do anything, his brother younger than him. He prepares uniform cloth for his brother. Sometimes he teaches his brother. In the morning, He starts with clears up his bedroom by himself. After that he was cleaning the house, from the living room to the dining room.  He tidy up the existing books on the coffee table. Usually every night before bed they gathered in the living room for a joke or read books. After completion he will tidy up the dining room, helping her mother set the table. Advised he was the eldest son and he does not have a sister so he felt that he must help his parents, including setting the table. He also swept the floors were dirty.
            Second, he is diligent in his school. He also was known as a diligent boy in his school. Every day, he never late goes to school, he always came early. He doesn’t like to come late. Well, he comes early for some reasons; one of them is to avoid jams. In his school he included a smart person. He always helps his friend. Sometime he asks by his friends to teach them. He always keeps the cleanliness of the school environment. He never litters. He told his friend that they should throw the trash in garbage case. He believes that hygiene is part of our faith. He also joined in extracurricular group such as: OSIS, PMR, and PRAMUKA.
            Third, he is diligent in our environment.  Every Sunday, he participates to clean his live environment. He usually helps people around who are planting rice, he and other residents weeds in the streets of housing. Community service does is to keep the neighborhood, so they always look clean housing. When there is a neighbor who asked for his help, he volunteered to help. There are asking fix broadcast television, and he wants to help the things that he could. In addition he also helped the citizens who have problems.
            That is my friend, Hendra who is never lazy to behave well. He is diligent in his house, his school, and also in our environment. He is the most diligent friend I have ever known. I hope he always diligent in everywhere and any time. If you are want to see the diligent person, look at Hendra.
                                       Pria manis itu bernama Putra

 Masih ku ingat jelas hari pertama menghuni rumah baru itu, tepat di depan rumahku, tinggallah seorang pria yang manis, entah kenapa itu membuatku berubah. Aku yang semula tak pernah mengurai rambut, kini perlahan kurapikan. Aku yang awalnya tidak memperhatikan penampilan, kini mulai merasa malu jika berpakaian layaknya lelaki. Padahal sebelum bertemu dengannya aku sangat nyaman menggunakan kaos oblong serta celana gunung yg kebesaran. Rambut yg semula selalu ku ikat perlahan mulai kuurai dan kuhiasi dengan aksesoris yang imut. Hahaha entahlah aku merasa hal ini sangat gila.

Setiap pagi aku membersihkan halaman depan rumah hanya untuk melihat wajah manisnya itu. Ahhh siall dia terlalu indah untuk diabaikan, gumamku waktu itu. Saat itu aku tidak pernah tau tentang rasa yang kurasakan, rasa yang membuatku tersenyum-senyum sendiri bila mengingatnya.

Hampir tiap hari ku perhatikan rumahnya, hingga aku sangat hapal jadwal sehari-harinya. Dari mulai berangkat sekolah hingga waktu tidur dimalam hari. Kamarnya berada di ruangan paling depan rumahnya. Dari jendela kamarku, aku bisa memlihat jelas teras rumah yg lampunya diredupkan saat malam hari, Benda-benda dikamarnya yg terlihat di balik tirai putih tipisnya, aku bisa membayangkan bagaimana kamarnya. Setiap malam dia selalu menyempatkan membaca buku di kamar tidurnya. Meja belajarnya tepat di bawah jendela kaca, melalui sinar lampu dalam kamarnya, dan lampu teras yang redup itu, bisa kulihat bayang-bayang dirinya saat membaca buku. 

Entahlah, apa alasannya selalu mematikan lampu teras saat dia duduk di berandanya, tetapi saat dia sudah masuk ke kamarnya, lampu teras kembali dinyalakan. Mungkin dia tidak ingin menjadi pusat perhatian, Maklum saja di tempatku waktu itu dia satu-satunya pria yang berwajah tampan. 

Saat itu dia masih duduk di bangku SMA, sedangkan saya baru memasuki SMP. Aneh rasanya saat memperhatikan pria untuk yang pertama kalinya.Aku dan dia tidaklah terlalu akrab, kami tidak pernah duduk berdua dan menghabiskan malam hanya sekedar bercanda ria, padahal rumahku selalu dijadikan tempat tongkrongan pemuda-pemuda di sana, maklum saja ayahku membuka warung kecil-kecilan dan setiap malam ramai dikunjungi pemuda-pemuda seumuran dia, tapi entah kenapa dia tidak pernah berkungjung. Mungkinkah dia antisosial? atau mungkin dia terlalu malas menghabiskan malam hanya dengan mengobrol saja. Dia lebih memilih membaca buku di kamar tidurnya untuk menghabiskan malam.

Pernah ku cari tau apa aktivitasnya selain sekolah kepada pria-pria seumurannya tapi informasi yang kudapatkan sangatlah minim. Dia tidak akrab dengan pemuda-pemuda disini. Teman yang selalu berkunjung kerumahnya juga bukan orang satu desa.

Dia terlihat semakin tampan mengenakan seragam putih abu-abunya, dia memiliki perawakan tubuh yang tinggi, dan kulitnya putih pucat. Aku pun heran bagaimana bisa kulitnya sepucat itu, sedangkan orang tua dan kakak-kakanya tidak demikian. Mungkin karna dia jarang beraktivitas di luar ruangan. Dunianya hanya sebatas rumah dan sekolah. 

Dia juga termasuk pria yang rajin membantu orang tuanya, maklum saja dikeluarganya tidak memiliki saudara wanita, kakak dan adiknya semua pria. Setiap pagi minggu dia membantu ayahnya membersihkan pekarangan depan rumahnya. Saya tentu saja sering mencuri pandang.

Namun, perasaan itu hanya sebatas kekaguman semata, aku tidak pernah berharap bisa memilikinya, bahkan bisa berteman dengannya pun tidak pernah terbayang. Aku yang saat itu masih anak ingusan hanya bisa memperhatikannya secara diam-diam. Setelah sekian tahun, mungkin hanya beberapakali saja aku memiliki kesempatan menyapanya. Senang rasanya saat suatu hari dia memanggil namaku, tak kusangka dia mengetahui namaku, mungkin karna sudah lebih dari setahun bertetangga. Senang :).

Sejak saat itu, entah kenapa aku selalu tertarik dengan pria yang tinggi putih dan baik, mungkin karna dia seperti itu. Selama tiga tahun aku hanya bisa memperhatikannya secara diam-diam, dan bahkan sampai sekarangpun masih diam-diam. Kini dia sudah kuliah di salah satu perguruan tinggi negri di kota. Kebetulan aku satu kampus dengannya. Sering beberapa kali aku berpapasan dengannya, dan dia tersenyum melihatku. Aku senang karna dia tidak pernah melupakanku. Suatu haripun aku melihatnya bersama wanita cantik yang kuketahui sebagai kekasihnya. Aku pun senang melihatnya. Betapa beruntungnya wanita itu, gumamku dalam hati.

Putra, anggap saja namanya itu. Terima kasih karna telah membuat banyak perubahan pada diriku. Terima kasih, berkatmu aku menemukan fungsi hati ini, mungkin jika tak melihatmu hari itu, aku tidak akan pernah tau rasanya debaran pertama dalam dada saat melihat pria. Terima kasih karna masih berteman baik denganku. Dan aku terima kasih karna telah menjadi pria pertama yang menggetarkan hatiku. Berkatmu, standar hatiku menjadi tidak biasa, aku hanya bisa jatuh hati pada pria yang baik dan manis sepertimu.
Sekali lagi terima kasih :)




Sabtu, 02 Mei 2015

tokoh-tokoh cerita gua yang akan datang


Hey guy's kali ini gua bakalan post yang berkaitan dengan postingan gua di bulan november tahun kemaren,
yaitu tentang kisah-kisah hidup gua (lebih tepatnya kisah cinta sih haha). oke kita mulai dari PERKENALAN tokoh2 yang bakal muncul di cerita2 gua selanjutnya.

Pertama-tama dan yang paling utama gua bakal kenalin dulu keluarga gua, mulai dari orang tua sampai adek" gua dan tentunya gua sendiri hehe. Bapak gua orang sunda, dia lahir di Cianjur pada tanggal 18 september 1973 jadi sekarang umurnya sekitar 41 lah ya, masih muda dan alhamdullilah sehat selalu, sedangkan Mamah gua orang palembang lahir di Palembang 3 mei 1974, mereka nikah sekitar tahun 1992,Gua juga gak pernah nanya sih mereka ketemu dimana yang jelas mereka nikah muda dimana mamah gua bru 18 dan bapak gua 19, iri banget deh ama keseriusan mereka. kalo aja ortu gua kayak pemuda jaman sekarang yang kebanyaan mikirin karir mungkin gua gak akan ada di dunia ini kalik ya,, salutt deh sama perjuangan mereka. Di usia muda mereka bisa menjalani hidupnya dengan penuh kerja keras. Gua cuman bandingin aja sih sama pemuda jaman sekarang yang ah sudahlah.. Gua yang umurnya udah 20 aja masih gak bisa bayangin klo udah nikah gimana,,haha udah ah malah bahas pernikahan pula -__-" intinya orang tua gua HEBATT!! :) (tambahin uang saku ya pak, rajin" isi in pulsa ya mah) hahaha. Setelah nikah dan ngelahirin gua dan adek gua Dani, kami pindah ke Lampung.

Nah sekarang gua kenalin adek-adek rese gua (viss bray) adek pertama gua namanya DANI ya sebut aja gitu dia lahir 2 tahun setelah gua pada hari pahlawan tahun 1996, sekarang dia kelas 3 SMA semester akhir, nih anak yang paling nakal diantara adek-adek gua yg lainnya , paling tinggi dan paling maless, aist gak ada bener2nya ni orang (semoga dia gak baca) tapi yang bikin gua heran ni anak gak pernah belajar di rumah kerjaannya maen game aja tapi prestasinya di sekolah mah jempolan,, ckckck heran gua dek sama lo,salut gua, gua ralat kata-kata hujatan gua yang tadi ternyata lu ada bagusnya juga walopun kebanyaan yg gak bagusnya haha.

Adek ke dua gua ini rada aneh, ni anak paling cengeng di keluarga gua, kerjaannya nangis mulu, selalu jadi korban jahilnya dani, dia lahir di bulan juni 2003, namanya ROBI iya udah anggep aja gitu, dan adek gua yang terakhir lahir di bulan november juga tahun 2008, di panggil VITA, nih adek bungsu gua yang selalu buat gua pengen pulang kampung, ni anak makin hari makin gemesin aja, ada banyak cerita tentang vita, tentang kisahnya yang rumit dan tentang masa2 balitanya yang tak biasa. kapan-kapan gua bakal fokus nulis tentang dia.

Oke, keluarga udah, sekarang temen dan yang lainnya.
Yang jadi list pertama gua adalah sahabat gua yang paling gua sayang, dia yang gak pernah pergi dari sisi gua, dia yang selalu ada disaat semua pergi ninggalin gua, dia yang paling ngertiin gua, dan pokoknya dia yang terbaik. Namanya Ferty, dia suku jawa tapi udah netap di Lampung cukup lama. Dia orang pertama yang gua kenal sekaligus jadi sahabat pertama gua. Dia ngajarin gua bnyak hal terutama tentang bahasa Lampung yang (agak) ribet. Ya namanya juga hidup gak semuanya mulus, gua ama ferty pun pernah gak setegoran hampir setahun. Lalu ada Leo, Andri, Angga, Rama, dan Ifah, ya mereka semua tetangga gua dan juga temen-temen gua dan mereka akan jadi bagian dari cerita gua.

Dan yang ini nama-nama samaran orang-orang yang bakal jadi tokoh dalam cerita cinta gua, (sengaja gua samarin namanya biar gak ada yg tau hahaha). Gua tomboy (dulu) dan gua kayak gitu karna ada sebabnya, gua dari kecil udah maen bareng cowo, temen gua rata-rata cowo semua, dan dikampung gua anak cewe seusia gua rumahnya jauh-jauh cuman ferty doang yang deket, dan entah kenapa gua lebih nyaman maen bareng sama temen cowo dari pada cewe, mungkin juga karna gua punya adek cowo. Dulu gua pikir gua itu gak normal, gua gak ngerasa ada ketertarikan sedikitpun sama cowo, mungkin karna tmen-temen gua gak ada tampang semua kalik ya (emang makhluk astral hahaha)  
dan cowo pertama yang bikin gua sadar kalo gua ini sebenernya normal adalah PUTRA, ya dia nyadarin gua dengan tampang manisnya, sejak saat itu gua jdi punya feeling ke beberapa cowo yang punya tampang dan care sama gua, saat SMP ada PRATAMA, dan KIKI, di zaman SMA ada KHAN (karna dia suka bnget film" india sama kayak gua ), IQBAL, RAHMAN,dan ANWAR. Setelah lulus hingga sekarang ada beberapa yang wajib gua share, pertama ada KEVIN, NOUFAL, ADY, dan yang terakhir OMAN. 

nah pada postingan berikutnya gua bakal ceritaain tentang tokoh-tokoh diatas sampai alasan gua lebih milih jomblo sekarang. oke I think enough for this post, see yaa.. :)

Rabu, 15 April 2015

Remember Rain



            Hujan yang mengguyur Jakarta memaksa kakiku melangkah lebih cepat. Agak berlari aku menuju salah satu halte Busway yang berada di daerah rawamangun Jakarta timur sekitar beberapa meter dari Universitas Negri Jakarta. Meskipun jarak kampus dan rumahku beberapa kilometer, sepulang kuliah aku memilih menaiki kendaraan umum. Mobil yang biasa ku pakai ku biarkan beristirahat dirumah. Aku ingin menikmati Jakarta dengan berjalan kaki. Kesibukan Jakarta yang bertambah pada sore hari, terkadang menjadi salah satu yang dapat dinikmati. Orang-orang berjalan cepat, berburu dengan waktu, kesemerautan kendaraan; polusi dari knalpot kendaraan,pada saat-saat tertentu menjadi menarik. Hujan masih turun, dan Bus yang ditunggu belum juga tiba. Aku melihat 2 orang anak SMA berlarian di tratoar bermain-main dengan lebatnya hujan. Tanpa kusadari aku tersenyum melihat mereka, dan pikiranku menerawang jauh, kembali ke 4 tahun silam, dimana aku masih berseragam putih abu-abu, masa yang menyimpan jutaan kenangan indah, tentang sosok yang sangat aku rindukan.
            Hari itu sekitar akhir 2009 juga turun hujan, aku dan dia berlari-lari kecil menuju gerbang sekolah. Gerbang itu cukup besar terdapat ukiran nama sekolahku dengan huruf kapital SMAN 25 BANDAR LAMPUNG, dikelilingi oleh tembok tinggi berwarna pucat. Dia yang bersamaku adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki, namanya Andre Gumilang, dia asli suku Lampung.Ya, saat SMA aku memang bersekolah di Lampung, aku pindah dari Jakarta mengikuti kedua orang tuaku. Saat itu ayah sedang membangun perusahaannya di Lampung. Andre adalah teman pertama yang ku kenal semenjak tinggal di Lampung tepatnya sekitar 3 tahun yang lalu. Kini kami sedang menikmati masa-masa akhir SMA. Andre adalah sosok yang ceria, nakal, setia kawan, dan sebenarnya sosok yang cukup pintar bahkan lebih pintar dari aku, meskipun dia sering bolos,nilai-nilainya sangat bagus. Tak pernah sekalipun kulihat dia bersedih, entahlah aku anggap hidupnya selalu bahagia. Dia sering kali bolos dari pelajaran kimia, tak pernah ku tau kemana dia pergi saat membolos. Dia hanya menjawab jika dia pergi kesuatu tempat untuk menghindari guru atau teman-temannya. Dia adalah sosok yang hebat, dia selalu ada di sampingku, persahabatan kami sangatlah indah.
            Tapi, akhir-akhir ini dia berubah, dia tidak seceria yang kemarin, sering kudapati dia sedang melamun. Aneh, tak seperti biasanya, sering aku mencoba mengetahui bagaimana hidupnya sebenarnya, namun tidak berhasil. Meskipun kami sudah berteman sejak kelas 1 SMA, aku tidak terlalu tau banyak tentang dirinya, karna dia sangat tertutup untuk masalah pribadinya. Dari tatapan matanya dapat kusimpulkan bahwa selama ini ada sebuah rahasia yang tak pernah dia ingin siapa pun mengetahuinya, termasuk aku.
            Sepulang sekolah dia terlihat sangat tergesa-gesa.
            “Dre..lo mau kemana? Buru-buru amat”. Aku bertanya sambil menghentikan langkahnya.
            “gua ada urusan bim, sorry gua hari ini gak bisa ikut belajar di rumah lo”.
            “iya, emang lo mau kemana? Gua anterin ya, lo keliatan pucet gitu, gua bawa mobil bokap tuh”. Pintaku agar aku tau tujuannya.
            “etdah..kagak usah bimo!! Gua baik-baik aja kok, Gua bisa sendiri, lo pulang aja kan udah ditunggu nyokap lo dirumah”.
Andre langsung pergi tanpa menghiraukan hujan yang membasahi tubuhnya serta aku yang berusaha mengejarnya,  dia hilang di antara keramain, dan sempat kulihat dia menaiki sebuah angkutan umum.
            “heemm, mau kemana dia? Itu kan bukan arah rumahnya?”. Gumamku dalam hati.
Sejak hari itu dia berubah, dia bukan seperti Andre yang kukenal, aku merasa seperti ada jarak antar kami. Dia sangat jarang masuk sekolah. Sekalinya masuk, dia seolah menghindariku. Entah sudah berapa puluh sms yang kukirim padanya namun tak ada satupun yang dibalas.
            “Dre, lo ada masalah apa? Lo kenapa? Kenapa lo ngehindarin gua terus? Gua salah apa sama lo? Lo udah gak mau temenan sama gua lagi?. Dre, minggu depan kita ulang tahun, gua mau lo dateng dan niup lilin bareng gua, orang tua gua mau kita ngadain pesta bareng, lo bakal dateng kan? . Dre gua itu sahabat lo, apapun yang lo butuhin gua bakal berusaha bantuin lo, dan apapun yang lo mau gua bakal berusaha mewujudkannya, plis dre lo jangan hindarin gua kayak gini terus, gua kangen maen bola bareng lo, gua pengen ikut balapan motor sama lo lagi, dre semoga semua baik-baik aja”
Dan beberapa minggu sebelum ujian nasional berlangsung dia tidak pernah lagi masuk sekolah. Aku mendapat kabar bahwa dia pindah dan berhenti sekolah. Aku sebagai teman merasa sangat marah, aku marah karna dia pergi begitu saja. Dia pergi tanpa mengucapkan perpisahan, dan dia pergi tanpa menghadiri pesta ulang tahunku. Ada rasa terhianati disini, dan dia pergi dengan meningkalkan banyak pertanyaan di benakku. Seusai pembagian ijazah, aku kembali datang kerumahnya yang kotor, terlihat bahwa selama ini tidak dihuni. Warga sekitar mendengar kabar bahwa dia dan keluarganya pindah ke Jakarta, namun tak ada yang tau alamat pastinya. Hari-hari terakhir di Lampung sangat membosankan. Kemudian aku melanjutkan kuliah di UNJ, dan memilih menetap sendiri di rumah lamaku di Jakarta timur. Hari demi hari aku berharap mendapat kabar dari Andre, hingga suatu hari di tahun 2012 aku mendapatkan sebuah paket. Disana tertulis namaku dan nama pengirimnya yang tak lain adalah Andre.
Kulihat box itu penuh dengan beberapa barang dan surat.
             Untuk sahabatku Bimo
Bim, maaf karna gua gak pernah ngasih kabar ke lo, gua cuman gak mau ngelibatin lo dalam masalah gua, maaf kalo gua gak bisa dateng saat lo ulang tahun, gua pengen banget dateng, tapi gua gak bisa bim, hari itu gua kerumah sakit, gua harus ngikut kemoterapi, selama ini jadwal kimia kita bertepatan dengan jadwal kemo gua bim, makanya gua gak pernah ngajak lo waktu bolos. Maaf gua gak pernah ngasih tau lo keadaan gua yang sebernya, gua gak bisa ngeliat sahabat gua yang cakep kayak lo sedih. Gua pindah ke Jakarta, karna disini peralatan kemonya lebih lengkap. Gua sempet beberapa kali ngeliat lo, gua selalu ada di sisi lo bim, gua seneng akhirnya lo bisa kuliah di jurusan yang lo pingin. Gua bahagia sempet kenal sama lo bim, makasih untuk semuanya, ini ada surat-surat yang gua bikin disetiap ulang tahun lo, ada juga kado-kado buat lo, mungkin saat lo terima ini semua, gua udah gak ada di dunia ini bim, tapi gua bakal selalu ada di hati lo, kita akan tetap jadi sahabat bim,
Sahabatmu
Andre
            Air mata tak mampu ku bendung lagi, aku menangis. Aku masih tak percaya bahwa Andre tlah tiada. Hari itu juga aku langsung menuju alamat yang terdapat di kotak itu dan ternyata benar. Aku di antarkan oleh ayahnya ke makam Andre. Aku bersimpuh lemas dihadapan makamnya, dia yang kunanti selama ini telah tiada. Lagi-lagi hujan turun menemani kesedihanku.
            “hey,kak bimo..kok ngelamun aja sih,ayok naik tuh busnya udah sampe”.
Aku disadarkan oleh Tiara, sosok cantik yang menemani hariku kini, hujan telah reda. Makasih Andre, kau telah mengajarkan banyak hal pada ku, tentang arti persahabatan yang sebenarnya, tentang perjuangan hidup dan tentang cara mensyukuri apapun keadaan kita sekarang. Aku akan selalu mengenangmu di setiap rintik hujan yang turun,hujan yang hadir di saat pertemuan pertama dan terakhir kita.
END